APA PROFETIK ITU ?
Profetic diambil dari bahasa Inggris, yakni prophet yang berarti Nabi/Rasul ( Utusan Allah ). Secara substansial kata “profetik” dipakai sebagai kategori etis yang mengarah pada kesadaran para Nabi (prophet) yang terlibat dalam sejarah memanusiakan manusia, membebaskan manusia dan membawa manusia berjalan menuju Tuhan. Dengan kata lain, upaya profetik mencoba menyatukan wahyu Tuhan dengan temuan pikiran manusia. Upaya untuk memanusiakan manusia kemudian disebut humanism emansipatif ( Amar Ma’ruf), membebaskan manusia disebut Liberasi ( Nahyi Munkar ), dan membawa manusia berjalan menuju Tuhan disebut Transendensi ( Tu’minuuna Billah ).
MENGAPA ADA KAJIAN PROFETIK ?
Sebagai sebuah ideology social, Islam juga menderivasi teori-teori sosialnya sesuai dengan paradigmanya untuk transformasi sosial menuju tatanan masyarakat yang sesuai dengan cita-citanya.
Oleh karena itulah menjadi sangat jelas bahwa Islam sangat berkepentingan pada realitas sosial, bukan hanya untuk dipahami tapi juga diubah dan dikendalikan. Tidaklah Islami misalnya, jika kaum muslimin bersikap tidak acuh terhadap kondisi struktural masyarakatnya, sementara dia tahu bahwa kondisi tersebut bersifat munkar. Sikap etis seperti ini mungkin akan mengalami bias dalam paradigma teori sosial Islam, tapi itu sah saja adanya, sebagaimana teori-teori sosial lainnya juga mengidap bias normatif, ideologis, dan filosofisnya.
MISI PROFETIK
Paradigma profetik menjadikan Nabi (prophet ) sebagai rujukan utama bangunan paradigmatik keilmuannya. Misi para Nabi untuk memanusiakan manusia, membebaskan manusia dari perbudakan ( penghambaan selain Allah pun) dan mengajak manusia berjalan menuju Tuhannya yang menemukan rumusan lengkapnya dalam amar ma’ruf nahyi munkar & tu’minuuna billah, dijadikan prinsip utama dalam paradigma profetik yang memilki rumusan dasar : 1). Humanisme/Emansipatif, 2). Liberasi dan 3). Transendensi. Dari tiga rumusan tersebut, kemudian diagendakan 5 program interpretasi praksis :
- Program penafsiran Al-Quran berdasarkan analiasa kepentingan praksis
- Program mendekonstuksi cara berpikir subjektif menuju cara berpikir objektif
- Program mendekonstruksi normatif Islam menuju Islam teoritis
- Program mendekontruksi pemahaman ahistoris menjadi pengalaman historis
- Program membangun epistemologi Islam khas Indonesia yang mampu membahasakan wahyu Ilahiyah menjadi suatu pemahaman yang spesifik dan empirik

0 comments:
Post a Comment
Silahkan Tinggal Pesan & Komentar